Headlines

Hanif Dhakiri: Mundurnya Petinggi BEI dan OJK Bukan Jawaban atas Gejolak IHSG

Ikolom.Jakarta – Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, M Hanif Dhakiri, menanggapi pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman serta sejumlah pejabat tinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat memicu trading halt.

Hanif menyatakan menghormati langkah para pemimpin lembaga pasar modal tersebut. Namun, ia menilai pengunduran diri bukan solusi utama untuk memulihkan kondisi pasar dan menjaga kepercayaan investor.

“Kami menghormati dan mengapresiasi langkah pengunduran diri tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral dan etika jabatan. Namun perlu ditegaskan, mundurnya pejabat bukanlah solusi utama atas persoalan pasar. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kepercayaan investor tidak semakin tergerus,” ujar Hanif kepada wartawan di Jakarta, dilansir Inilah.com. Sabtu (31/1/2026).

Menurutnya, tekanan yang dialami IHSG tidak semata disebabkan oleh faktor teknis, melainkan merupakan akumulasi sentimen global dan domestik. Ia menyebut tekanan eksternal, ketidakpastian kebijakan, hingga persepsi terhadap tata kelola pasar sebagai faktor yang turut memperburuk situasi.

“Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan kepanikan, melainkan kepemimpinan yang tenang, transparan, dan meyakinkan,” jelas dia.

Hanif menegaskan, Komisi XI DPR RI memandang pemerintah perlu segera mengambil sejumlah langkah strategis. Pertama, memberikan sinyal kebijakan yang konsisten dan kredibel, khususnya terkait stabilitas fiskal dan pasar keuangan. Kedua, memperkuat koordinasi antara OJK, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan agar respons terhadap gejolak pasar berjalan terpadu. Ketiga, menjaga kepercayaan investor melalui komunikasi publik yang jujur, terukur, dan tidak saling menyalahkan.

“Pasar tidak takut pada koreksi, tetapi sangat sensitif terhadap ketidakpastian. Karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah kepastian arah, ketegasan pengelolaan, dan kepemimpinan yang memberi rasa aman,” katanya.

Ia menambahkan, Komisi XI akan terus mengawal reformasi sektor keuangan agar berjalan secara sehat, transparan, serta mendukung stabilitas jangka panjang.

Sebagai informasi, pengunduran diri pejabat pasar modal terjadi di tengah gejolak pasar menyusul keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara perlakuan indeks terhadap saham-saham Indonesia.

Pejabat OJK yang mengundurkan diri antara lain Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK I. B. Aditya Jayaantara. Ketiganya mengumumkan pengunduran diri pada hari yang sama setelah Direktur Utama BEI Iman Rachman lebih dahulu mundur.

IHSG sendiri mengalami tekanan setelah MSCI memutuskan untuk menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia. MSCI berencana melakukan evaluasi indeks saham Indonesia pada Februari 2026 dengan beberapa kebijakan, di antaranya pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), penghentian penambahan konstituen ke MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan emiten antar-segmen indeks ukuran.

Dalam pernyataannya, MSCI menyebut langkah tersebut bertujuan menekan perputaran indeks serta mengurangi risiko kelayakan investasi, sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk meningkatkan transparansi.

Apabila hingga Mei 2026 tidak terdapat perbaikan signifikan, MSCI akan kembali mengevaluasi akses pasar Indonesia, termasuk potensi penurunan bobot saham Indonesia di Indeks Pasar Negara Berkembang dan kemungkinan reklasifikasi dari status Emerging Market menjadi Frontier Market.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *