Wali Kota Makassar Tegaskan Seleksi Ketat Imam Kelurahan, Utamakan Kompetensi dan Integritas

Ikolom.Makassar- Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan imam kelurahan yang berkualitas melalui proses seleksi yang ketat, objektif, dan menjunjung tinggi integritas.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Seleksi Calon Imam Kelurahan Kota Makassar Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) di Kantor Wali Kota Makassar, Rabu (6/05/2026).

Dalam arahannya, Munafri—yang akrab disapa Appi—menekankan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan syarat utama yang tidak bisa ditawar dalam proses seleksi imam.

“Kalau tidak mampu mengaji dengan baik, sebaiknya tidak dilanjutkan. Jangan sampai di satu kelurahan banyak yang fasih, tetapi justru yang kurang mampu yang terpilih. Ini tidak boleh terjadi,” tegasnya.

Selain kompetensi keagamaan, ia juga menyoroti pentingnya sikap toleransi. Menurutnya, seorang imam bukan hanya pemimpin ibadah, tetapi juga figur sosial yang harus mampu merangkul keberagaman masyarakat di Makassar.

“Kalau tidak memiliki sikap toleran, juga tidak layak. Kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Imam harus menjadi penyejuk, bukan sumber konflik,” ujarnya.

Appi menilai peran imam sangat strategis, tidak sekadar memimpin salat lima waktu. Ia berharap imam dapat menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.

Ia pun mendorong agar masjid difungsikan lebih luas, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang musyawarah serta pembinaan generasi muda yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an.

“Imam harus menjadi rujukan dalam penyelesaian masalah. Ketika persoalan dibawa ke masjid, di situlah semestinya solusi ditemukan. Ini adalah fungsi sentral imam,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Makassar tidak ingin lagi menerima keluhan terkait kinerja imam. Karena itu, seleksi harus benar-benar menghasilkan sosok yang berintegritas, bermoral, dan memiliki visi kuat dalam membangun masyarakat.

Appi juga menekankan pentingnya kemampuan manajerial. Menurutnya, imam adalah pemimpin yang harus mampu mengelola aktivitas dan organisasi masjid secara efektif bersama para pengurus.

“Kalau kita berbicara tentang imam, berarti kita bicara tentang kepemimpinan. Kepemimpinan itu berkaitan dengan manajemen, dan ujungnya adalah hasil yang nyata dari aktivitas masjid,” katanya.

Di akhir arahannya, ia mengingatkan peserta untuk tetap menjaga sportivitas selama proses seleksi berlangsung. Ia tidak menginginkan munculnya narasi negatif dari peserta yang tidak lolos.

“Dalam seleksi pasti ada yang berhasil dan tidak. Tapi jangan sampai yang tidak lolos justru menimbulkan persepsi negatif. Kita butuh kebersamaan untuk membangun masjid yang lebih baik,” ujarnya.

Secara khusus, Appi juga mengingatkan para penguji agar menjaga integritas dalam menjalankan tugasnya. Ia menegaskan bahwa kualitas imam yang terpilih mencerminkan kualitas dan profesionalitas tim seleksi.

“Pastikan yang lolos adalah mereka yang benar-benar layak, bukan karena kedekatan atau hubungan tertentu,” tegasnya.

Dalam seleksi tahun ini, tercatat 140 peserta dari 103 kelurahan mengikuti berbagai tahapan, mulai dari seleksi administrasi, tes tertulis, wawancara, hingga uji kemampuan baca tulis Al-Qur’an. Dari jumlah tersebut, akan dipilih 103 orang untuk mengisi posisi imam kelurahan periode 2026–2029. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *