Luwu Raya Sedang Diperebutkan, Rakyatnya Sedang Disingkirkan: Relevansi Film Pesta Babi, terhadap Kondisi Luwu Raya

Oleh: Haikal

Ikolom.News – Film Pesta Babi sesungguhnya bukan hanya bercerita tentang budaya dan konflik sosial masyarakat adat. Film tersebut adalah metafora tentang bagaimana rakyat kecil mempertahankan ruang hidupnya ketika kekuasaan dan kepentingan ekonomi mulai masuk secara agresif ke wilayah mereka. “Pesta babi” dalam film itu bukan sekadar ritual budaya, melainkan simbol konsolidasi rakyat untuk melawan ketidakadilan yang perlahan merampas tanah, identitas, dan masa depan mereka.

Jika dibaca secara kritis, film ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kondisi Luwu Raya hari ini.

Luwu Raya sedang berada di persimpangan besar antara kepentingan rakyat dan kepentingan modal. Atas nama investasi dan pembangunan, wilayah ini terus dijadikan target ekspansi industri ekstraktif. Tambang emas, smelter nikel, pembukaan lahan, hingga ekspansi pertambangan terus bergerak masuk ke ruang hidup masyarakat. Pemerintah selalu menggunakan narasi “kemajuan daerah” untuk melegitimasi semua itu. Namun pertanyaannya, kemajuan untuk siapa? Sedangkan Realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa masyarakat mulai menghadapi ancaman serius terhadap tanah, lingkungan, dan keberlangsungan hidup mereka sendiri. Ironisnya, di tengah konflik-konflik tersebut, pemerintah justru sering tampak lebih dekat kepada pemilik modal dibanding rakyatnya sendiri. Kritik masyarakat dianggap penghambat investasi. Aktivis lingkungan dicap anti pembangunan. Mahasiswa yang turun ke jalan dianggap provokator. Padahal yang sedang diperjuangkan masyarakat bukan penolakan terhadap pembangunan, melainkan hak untuk hidup secara adil di tanah mereka sendiri.

Di titik inilah film Pesta Babi menjadi sangat relevan.

Film itu menggambarkan bahwa ketika masyarakat terus ditekan oleh kekuasaan, budaya akan berubah menjadi simbol perlawanan. “Pesta” dalam film tersebut adalah ruang konsolidasi rakyat untuk mempertahankan martabat dan identitas kolektif mereka. Sebab rakyat sadar, ketidakadilan tidak akan pernah berhenti jika mereka terus berjalan sendiri-sendiri.

Sehingga, Luwu Raya hari ini membutuhkan semangat yang sama!!

Konsolidasi akbar rakyat bukan lagi sebuah pilihan, tetapi sebuah kebutuhan. Mahasiswa, masyarakat adat, petani, buruh, pemuda, aktivis lingkungan, dan seluruh elemen masyarakat sipil harus mulai menyatukan kesadaran bahwa Luwu Raya tidak boleh hanya menjadi ladang eksploitasi elite politik dan korporasi.
Sebab ancaman terbesar hari ini bukan hanya tambang atau kerusakan lingkungan, melainkan matinya keberanian masyarakat untuk melawan ketidakadilan.

Kita sedang menyaksikan bagaimana politik kehilangan moralitasnya. Jabatan dipertahankan demi jaringan kepentingan. Kebijakan lahir lebih cepat untuk investor dibanding untuk rakyat kecil. Demokrasi hanya hidup saat pemilu, tetapi mati ketika rakyat membutuhkan perlindungan. sejarah selalu menunjukkan bahwa daerah yang kaya sumber daya alam tetapi miskin kontrol rakyat akan mudah jatuh ke dalam kolonialisme gaya baru. Bedanya, jika dulu penjajahan dilakukan oleh bangsa asing, hari ini penjajahan dilakukan melalui investasi yang dibungkus narasi pembangunan.

Film Pesta Babi mengajarkan bahwa rakyat tidak boleh terus menjadi penonton di tanahnya sendiri. Ketika kekuasaan kehilangan kepekaan, maka rakyat harus membangun solidaritas perlawanan. Ketika hukum tidak lagi sepenuhnya berpihak pada keadilan, maka kesadaran kolektif masyarakat menjadi benteng terakhir untuk menjaga masa depan Luwu Raya.

Mahasiswa Luwu Raya tidak boleh diam!!

Kampus harus kembali menjadi ruang konsolidasi intelektual rakyat, bukan sekadar tempat mencetak sarjana yang sibuk mencari posisi aman dalam lingkaran kekuasaan. Sebab jika kaum muda ikut diam, maka yang tersisa hanyalah satu kenyataan, dimana Luwu Raya akan terus menjadi panggung besar pesta para elite, sementara rakyat dipaksa menerima sisa-sisa dari kerakusan yang mereka ciptakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *