IKOLOM.NEWS, NASIONAL — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan menembus level psikologis Rp18 ribu per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah berada di posisi Rp18.049 per dolar AS atau melemah 82 poin dibandingkan hari sebelumnya.
Pelemahan rupiah yang berlangsung sejak pecahnya konflik Iran melawan AS dan Israel pada akhir Februari menimbulkan kekhawatiran terhadap aktivitas ekspor dan impor Indonesia yang bergantung pada transaksi mata uang asing.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan dampak pelemahan rupiah tidak dirasakan sama oleh seluruh pelaku usaha.
Menurutnya, eksportir secara teori bisa memperoleh keuntungan karena pendapatan dalam dolar AS akan bernilai lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis meningkatkan keuntungan karena banyak eksportir masih bergantung pada bahan baku, energi, mesin, suku cadang, dan jasa logistik impor yang dibayar menggunakan dolar AS.
“Jadi, pelemahan rupiah hanya benar-benar menguntungkan eksportir yang bahan bakunya dominan lokal, biaya rupiahnya besar, dan permintaan globalnya masih kuat,” katanya mengutip CNNIndonesia.com, Kamis (4/6/2026).
Di sisi lain, importir dan industri yang berorientasi pada pasar domestik dinilai paling cepat merasakan tekanan karena biaya impor meningkat, sementara kemampuan menaikkan harga jual masih terbatas oleh daya beli masyarakat.
“Oleh karena itu, menurut dia, dampak awal pelemahan rupiah cenderung lebih negatif terhadap margin usaha, arus kas, dan rencana produksi dibandingkan manfaat yang bisa diperoleh dari ekspor.”
“Tekanan nilai tukar, energi, logistik, dan rantai pasok membuat prospek perdagangan lebih tidak stabil dan surplus perdagangan lebih mudah menyempit,” ujar Josua.
Sementara itu, Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, menilai sektor ekspor masih menunjukkan kinerja positif di tengah gejolak nilai tukar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$25,30 miliar atau naik 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$20,74 miliar.
“Saya rasa ini menjadi suatu performa industri yang bagus ya di tengah kondisi seperti sekarang,” kata Myrdal.
Namun, ia menilai pelaku impor menghadapi tantangan yang lebih besar, terutama bagi perusahaan yang belum memiliki strategi lindung nilai (hedging) terhadap fluktuasi kurs.
“Ke depannya kita lihat untuk pelaku industri impor mau tidak mau mereka akan melakukan langkah efisiensi supaya profit margin mereka tidak tergerus,” ujar Myrdal.
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut diperkirakan akan menjadi tantangan tersendiri bagi dunia usaha, khususnya sektor yang bergantung pada bahan baku dan barang impor, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik internasional.
