Ikolom.Makassar – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Solidaritas Pelajar Mahasiswa Peduli Rakyat Papua (FSPM PRP) menggelar aksi unjuk rasa di depan Asrama Papua Cenderawasih, Jalan Lanto Dg Pasewang, Kota Makassar, Jumat (15/08), dalam rangka memperingati 63 tahun Perjanjian New York dan enam tahun peristiwa rasisme terhadap mahasiswa Papua pada 16 Agustus 2019.
Aksi yang dimulai sejak pukul 10.00 WITA itu dipimpin oleh Jeck Matuan dan diikuti sekitar 50 peserta. Mereka menyuarakan sejumlah tuntutan yang berfokus pada isu HAM dan keadilan bagi rakyat Papua.
Beberapa poin seruan yang disampaikan di antaranya adalah penghentian operasi militer di Tanah Papua, penolakan terhadap tindakan rasisme, serta desakan untuk pelaksanaan referendum sebagai solusi demokratis bagi Papua.
Rencana awal massa aksi yang ingin menggelar long march menuju Monumen Mandala mendapat penolakan dari aparat kepolisian. Upaya untuk menerobos blokade aparat berujung pada aksi saling dorong antara demonstran dan petugas. Pihak kepolisian pun mengerahkan ratusan personel serta menyiagakan mobil water canon untuk mengamankan jalannya aksi.
Menjelang sore, situasi sempat memanas saat sejumlah warga di sekitar lokasi meneriaki massa aksi dan meminta mereka membubarkan diri. Respons dari peserta aksi nyaris memicu bentrok langsung dengan warga, namun kondisi berhasil dikendalikan berkat kesigapan aparat keamanan yang memisahkan kedua pihak.
Meskipun diwarnai ketegangan dan senggolan kecil, aksi yang berlangsung selama kurang lebih enam jam itu akhirnya berakhir dengan damai.
Adapun tuntutan lengkap yang disuarakan FSPM PRP dalam aksi tersebut adalah:
- Menolak lupa atas peristiwa rasisme 16 Agustus 2019.
- Referendum sebagai solusi demokrasi bagi rakyat Papua.
- Hentikan operasi militer di Tanah Papua.
- Stop rasisme terhadap rakyat Papua.
- Tolak penggabungan Papua dalam Indonesia, dengan penekanan pada tanggal 01 Desember 1961 sebagai hari kemerdekaan Papua Barat.
- Hentikan eksploitasi sumber daya alam di Papua Barat.
Aksi ini menjadi bagian dari rangkaian protes yang rutin digelar mahasiswa Papua menjelang peringatan hari kemerdekaan Indonesia, dengan menyoroti ketidakadilan yang mereka rasakan dalam relasi Papua-Indonesia.