IKOLOM.NEWS, INTERNASIONAL – Risiko resesi di Amerika Serikat (AS) semakin meningkat seiring kebijakan penaikan tarif yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Menurut laporan terbaru dari Goldman Sachs yang dikutip oleh CNN pada Selasa (1/4/2025), kebijakan yang memicu perang dagang ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan inflasi, dan memperparah tingkat pengangguran.
BACA JUGA:
Gubernur Sulsel: Infrastruktur Kunci Utama Investasi dan Kesejahteraan Masyarakat
Goldman Sachs memperingatkan kliennya pada Minggu malam bahwa peluang resesi dalam 12 bulan ke depan telah meningkat menjadi 35%, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 20%.
Dampak Ekonomi yang Luas
Bank investasi Wall Street ini juga menaikkan estimasi inflasi serta memangkas proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk tahun 2025 menjadi hanya 1%.
Selain itu, tingkat pengangguran diperkirakan meningkat 0,3 poin persentase menjadi 4,5% pada akhir tahun.
Ini merupakan probabilitas resesi tertinggi menurut Goldman sejak krisis perbankan regional dua tahun lalu. Penyebab utama kali ini adalah ketegangan perang dagang yang semakin memanas akibat kebijakan tarif Presiden Trump.
“Kemerosotan tajam dalam keyakinan rumah tangga dan bisnis, serta pernyataan dari pejabat Gedung Putih yang menunjukkan kesiapan mereka untuk menoleransi pelemahan ekonomi jangka pendek dalam mengejar kebijakan ini,” tulis ekonom Goldman Sachs dalam laporan mereka.
Kepercayaan Konsumen Anjlok
Survei sentimen konsumen yang dilakukan oleh Universitas Michigan dan dirilis pada Jumat lalu menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen telah merosot dalam beberapa bulan terakhir.
Selain itu, semakin banyak warga Amerika yang memperkirakan tingkat pengangguran akan meningkat.
Selama kampanye pemilihannya, Trump telah berjanji untuk menerapkan tarif secara agresif. Namun, para investor, CEO, dan ekonom terkejut dengan seberapa cepat dan ekstrem langkah tersebut diambil.
“Tarif yang lebih tinggi kemungkinan akan memperparah krisis konsumen,” tambah ekonom Goldman Sachs.