Ikolom.News – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza yang sebelumnya telah berada pada titik terendah kini kian memburuk. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut membuat kondisi para pengungsi semakin terpuruk. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) menyampaikan bahwa cuaca ekstrem memperparah situasi tempat-tempat pengungsian yang selama ini sudah penuh ketidakpastian dan rasa takut.
Dalam keterangan resmi yang dirilis pada Sabtu (15/11/2025), UNRWA menggambarkan keadaan yang sangat memprihatinkan: banyak keluarga terpaksa berlindung di tenda-tenda seadanya. Air hujan yang masuk dan lumpur yang menumpuk menjadikan tempat tinggal sementara itu hampir tidak mungkin dihuni, menambah beban jutaan warga yang terusir akibat perang.
“Kami sudah menyiapkannya. Jadi, kami mendesak agar diberikan izin untuk menyalurkannya kepada warga,” ujar UNRWA, dikutip dari Inilah.com.
Pihak UNRWA menyatakan bahwa badai dan curah hujan yang melanda Gaza berpotensi memicu dampak yang sangat serius. Fasilitas-fasilitas penampungan, termasuk sekolah-sekolah UNRWA yang dialihkan menjadi lokasi hunian darurat, tidak dirancang untuk menghadapi cuaca buruk berkepanjangan.
Ruang kelas yang biasanya menjadi tempat aman bagi keluarga pengungsi kini menghadapi ancaman kerusakan, serta risiko kesehatan akibat lingkungan lembap dan minim sanitasi.
Karena itu, UNRWA kembali menegaskan perlunya memasukkan bantuan berupa material penunjang tempat tinggal (shelter materials) ke Gaza sesegera mungkin. Seruan ini ditujukan terutama kepada otoritas Israel agar membuka akses bantuan tanpa hambatan administratif yang memperlambat respons kemanusiaan.
UNRWA menambahkan bahwa tekanan internasional terhadap Israel agar mengizinkan masuknya bantuan masih terus berlangsung. Namun, situasi di lapangan berkembang jauh lebih cepat dibanding proses diplomasi. Setiap jam penundaan dalam pengiriman selimut, terpal, dan perlengkapan kebersihan dapat meningkatkan risiko kesehatan dan kematian bagi warga sipil.
Tugas Kemanusiaan di Tengah Realitas Ekstrem
Walaupun menghadapi ancaman keamanan dan kondisi kerja yang sangat berat, UNRWA menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan misi kemanusiaan di Gaza. Lembaga ini tetap menjadi salah satu pilar utama dalam penyaluran bantuan di tengah kompleksitas konflik.
Krisis yang terjadi saat ini bukan hanya terkait minimnya pangan dan obat-obatan, tetapi juga kemampuan para pengungsi menghadapi cuaca buruk tanpa persiapan. Hujan mempercepat penyebaran penyakit berbasis air dan memperburuk kondisi sanitasi, menambah beban pada sistem kesehatan yang sudah kewalahan.
Dedikasi UNRWA dalam mempertahankan operasionalnya bahkan ketika sekolah-sekolah mereka menjadi tempat perlindungan terakhir menunjukkan komitmen kuat lembaga tersebut. Namun, komitmen saja tidak cukup. Akses logistik yang cepat dan tanpa hambatan dari komunitas internasional mutlak diperlukan agar bantuan bisa benar-benar menyelamatkan nyawa, bukan hanya sekadar menjadi janji.