Ikolom.News – Militer Israel dilaporkan berencana menguasai sebagian wilayah Lebanon selatan sebagai bagian dari upaya menekan keberadaan kelompok Hizbullah di kawasan tersebut. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa operasi ini berpotensi menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi serta kerusakan besar pada infrastruktur sipil.
Operasi militer terhadap Hizbullah disebut dimulai pada awal Maret setelah kelompok yang berbasis di Lebanon itu melakukan sejumlah serangan ke wilayah Israel.
Serangan tersebut diklaim sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dilaporkan dimulai pada 28 Februari.
Katz menjelaskan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) berencana menguasai wilayah strategis hingga Sungai Litani, yang terletak sekitar 30–40 kilometer di utara perbatasan Israel dengan Lebanon.
“Ratusan ribu penduduk Lebanon selatan yang mengungsi ke utara tidak akan kembali ke selatan Sungai Litani sampai keamanan bagi penduduk di utara terjamin,” ujar Katz pada Selasa saat pertemuan dengan pejabat militer senior dilansir SindoNews.
Ia juga menegaskan pendekatan keras Israel dalam operasi tersebut. “Prinsipnya jelas: Di mana ada teror dan rudal, di situ tidak akan ada rumah dan penduduk, dan IDF akan berada di dalam,” katanya.
Menurut Katz, bangunan yang berada di dekat perbatasan Israel juga akan diratakan. Ia bahkan membandingkan strategi tersebut dengan pendekatan yang sebelumnya digunakan Israel di Gaza dalam konflik melawan Hamas.
Pernyataan Katz muncul sehari setelah Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menyuarakan gagasan agar Israel mencaplok seluruh wilayah Lebanon selatan hingga Sungai Litani.
Di sisi lain, Hizbullah menilai rencana tersebut sebagai ancaman serius terhadap keberadaan mereka dan menyatakan siap melakukan perlawanan. Kelompok itu menyebut tidak memiliki alternatif selain menghadapi apa yang mereka sebut sebagai agresi Israel.
Pemerintah Lebanon sendiri berharap komunitas internasional dapat memberikan tekanan kepada Israel agar menghentikan operasi militernya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron turut mengecam langkah Israel dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. Ia juga menilai pendekatan militer seperti itu tidak terbukti efektif berdasarkan pengalaman sebelumnya.
Israel sendiri tercatat beberapa kali melakukan operasi militer terhadap Hizbullah sejak 1978, termasuk pendudukan wilayah Lebanon selatan dalam periode 1982 hingga 2000.