Milad ke-79 HMI: Refleksi Kritis di Tengah Krisis Perkaderan antara Cita-cita & Kenyataan

Oleh: Syahrul Ramadan                        (Sekretaris Umum HMI Komisariat Hukum 45 UNIBOS)

Himpunan Mahasiswa Islam genap berusia 79 tahun. Usia yang jelas tidak muda. Ada banyak sejarah, perjuangan, dan kontribusi besar yang telah HMI berikan untuk bangsa dan umat. Tapi jujur saja, di tengah euforia milad ini, saya merasa refleksi kritis justru menjadi hal yang paling penting untuk dilakukan terutama soal kondisi HMI hari ini dan ke mana arah perkaderannya berjalan.

HMI lahir dari kegelisahan intelektual dan semangat perubahan. Sejak awal, HMI dibayangkan sebagai kawah candradimuka untuk melahirkan insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT. Namun yang saya lihat hari ini, jarak antara cita-cita besar itu dengan realitas di lapangan terasa semakin lebar.

Perkaderan yang seharusnya menjadi jantung organisasi justru sedang tidak baik-baik saja. Banyak proses kaderisasi yang berjalan sebatas rutinitas administratif dan formalitas. Nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan yang seharusnya menjadi ruh perkaderan sering kali kalah oleh sikap pragmatis, kepentingan jangka pendek, bahkan sekadar mengejar banyaknya kader tanpa dibarengi kualitas ideologis dan intelektual yang kuat.

Saya juga melihat tidak sedikit kader yang aktif secara struktural, tapi miskin gagasan. Forum-forum ramai, tetapi sepi dari pemikiran yang bernas. Diskusi ideologis semakin jarang, budaya membaca dan menulis makin melemah, sementara simbol, atribut, dan seremoni justru semakin ditonjolkan. Jika kondisi ini dibiarkan, HMI berisiko bergeser dari organisasi kader menjadi sekadar organisasi massa tanpa arah perjuangan yang jelas.

Selain itu, independensi HMI yang selama ini dibanggakan juga patut kita pertanyakan bersama. Kedekatan yang berlebihan dengan kekuasaan dan kepentingan politik praktis telah membuat posisi kritis HMI sebagai kekuatan moral dan intelektual menjadi kabur. Dalam beberapa situasi, HMI justru tampak reaktif dan kehilangan keberanian untuk bersikap tegas terhadap ketidakadilan sosial.

Bagi saya, Milad ke-79 ini seharusnya tidak hanya dirayakan dengan mengenang kejayaan masa lalu. Momentum ini mestinya menjadi ruang muhasabah kolektif. HMI perlu kembali pada khittah perjuangannya: memperbaiki kualitas perkaderan, meneguhkan kembali independensi, dan menghidupkan lagi tradisi intelektual yang kritis dan transformatif.

Apa yang saya sampaikan ini bukan lahir dari kebencian, melainkan dari rasa cinta dan tanggung jawab sebagai bagian dari HMI. Karena HMI yang besar bukanlah HMI yang anti kritik, tetapi HMI yang berani bercermin, mengakui kekurangan, dan melakukan pembenahan.

Di usia ke-79 ini, saya merasa perlu mengajukan satu pertanyaan sederhana namun mendasar:

Apakah HMI masih menjadi rumah ide dan nilai, atau kita hanya sedang hidup dari nama besar tanpa arah perjuangan yang jelas?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *