Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS–Israel di Teheran

Ikolom.News – Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia setelah serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Khamenei selama ini dikenal sebagai figur paling berpengaruh dalam sistem pemerintahan Republik Islam Iran.

Dilansir Al Jazeera dan laman resmi Khamenei.ir, Ali Khamenei lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939. Ia merupakan putra kedua Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama sederhana yang hidup dalam keterbatasan ekonomi namun menanamkan nilai kesederhanaan dan kerendahan hati kepada keluarganya.

Sejak kecil, Khamenei menempuh pendidikan di maktab, lembaga pendidikan dasar tradisional yang mengajarkan alfabet serta pembelajaran Al-Qur’an. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di sekolah Islam sebelum akhirnya memperdalam ilmu agama di seminari teologi di Mashhad.

Di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab, Khamenei mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk logika, filsafat, serta yurisprudensi Islam. Pendidikan tersebut ia jalani di bawah bimbingan ayahnya serta sejumlah ulama terkemuka pada masa itu.

Peran dalam Revolusi Iran

Pada masa remaja, Khamenei mulai terpengaruh pidato-pidato ulama revolusioner Nawwab Safavi yang keras mengkritik kebijakan Shah yang dianggap anti-Islam. Safavi kemudian dikenal sebagai martir setelah dieksekusi oleh rezim Shah.

Tahun 1962 menjadi titik penting ketika Khamenei bergabung dengan gerakan revolusioner yang dipimpin Imam Khomeini untuk menentang pemerintahan Shah yang dinilai pro-Amerika. Ia aktif dalam perjuangan tersebut selama sekitar 16 tahun hingga akhirnya rezim Shah runtuh.

Atas dedikasinya, Khamenei dipercaya Imam Khomeini menjalankan misi penting membawa pesan rahasia dari Ayatollah Milani dan sejumlah ulama terkait strategi mengungkap karakter rezim Shah kepada publik.

Dalam perjalanan revolusionernya, Khamenei beberapa kali ditangkap dan diasingkan. Ia pernah ditahan berbulan-bulan di Penjara Gabungan Polisi-SAVAK di Teheran. Setelah dibebaskan, pemerintah melarangnya memberikan ceramah maupun mengajar.

Aktivitas politiknya juga membuat ia diasingkan selama tiga tahun setelah kegiatan rahasianya terdeteksi aparat SAVAK. Meski demikian, Khamenei tetap melanjutkan aktivitas politik dan keagamaan serta ikut dalam demonstrasi massal di berbagai wilayah Iran.

Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran

Khamenei resmi menjadi Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran pada 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini yang wafat setelah memimpin revolusi Islam selama satu dekade.

Sebelum menjabat posisi tertinggi tersebut, Khamenei pernah menjadi Presiden Iran di tengah konflik panjang Iran–Irak pada dekade 1980-an. Pengalaman perang serta dukungan negara-negara Barat kepada Irak di bawah Saddam Hussein memperkuat sikap kritisnya terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat.

Di bawah kepemimpinannya, struktur militer dan paramiliter Iran mengalami penguatan signifikan sebagai bagian dari strategi pertahanan negara.

Kematian Khamenei Diumumkan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kematian Ali Khamenei setelah serangan gabungan AS dan Israel di Teheran.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,” kata Trump di jaringan media Social Truth miliknya, dilansir AFP, Minggu (1/3/2026).

Serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2) disebut menargetkan kompleks kediaman Khamenei di Teheran dengan puluhan bom. Media Iran melaporkan sejumlah anggota keluarga Khamenei, termasuk putri dan cucunya, turut menjadi korban.

Pemerintah Iran kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi kabar tersebut. Stasiun penyiaran negara IRIB melaporkan kematian sang pemimpin tertinggi.

“Pemimpin Tertinggi Iran telah mencapai syahid,” demikian dilaporkan oleh stasiun penyiaran negara IRIB dilansir CNN Internasional, Minggu (1/3/2026).

Sejumlah kantor berita Iran, termasuk Tasnim dan Fars, juga mengonfirmasi kematian Khamenei akibat serangan tersebut. Pemerintah Iran dilaporkan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta tujuh hari libur nasional sebagai bentuk penghormatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *