Ikolom.News – Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan internasional saat menghadiri peluncuran resmi Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza di sela agenda World Economic Forum (WEF) 2026. Acara tersebut berlangsung di Congress Hall, Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026), dan menandai langkah strategis Indonesia bergabung dalam poros delapan negara Muslim yang bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk mendorong berakhirnya konflik di Palestina.
Dengan mengenakan setelan jas abu-abu dipadukan kopiah hitam khasnya, Presiden Prabowo terlihat duduk di barisan depan panggung utama. Kehadirannya mendapat sambutan hangat dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjadi penggagas pembentukan dewan tersebut. Momen sapaan langsung Trump kepada Prabowo sebelum naik ke podium dinilai sebagai simbol kuatnya posisi Indonesia dalam konfigurasi diplomasi baru kawasan Timur Tengah.
Indonesia bergabung bersama tujuh negara Muslim lainnya, yakni Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA). Dalam pernyataan bersama Kementerian Luar Negeri RI, delapan negara ini sepakat mengambil langkah kolektif untuk menindaklanjuti Rencana Komprehensif Pengakhiran Konflik Gaza yang sejalan dengan Resolusi 2803 Dewan Keamanan PBB.
“Dewan ini diproyeksikan menjadi ‘otoritas sementara’ di Gaza. Tugas utamanya jelas: mengawasi mobilisasi sumber daya internasional untuk rakyat Palestina serta memastikan adanya stabilitas keamanan,” tulis pernyataan bersama para menteri luar negeri dilansir Inilah.com.
Bagi Indonesia dan negara-negara mitra, keterlibatan dalam badan yang diprakarsai AS tersebut tidak terlepas dari prinsip ideologis. Partisipasi Jakarta diarahkan untuk memperkuat gencatan senjata permanen sekaligus mendorong rekonstruksi menyeluruh di Gaza pascakonflik.
Lebih jauh, delapan negara itu menegaskan bahwa perdamaian berkelanjutan di kawasan hanya dapat terwujud apabila hak rakyat Palestina untuk membentuk negara yang merdeka dan berdaulat diakui sepenuhnya sesuai hukum internasional.
Eropa dan China Memilih Tidak Bergabung
Meski peluncuran Dewan Perdamaian Gaza berlangsung meriah di Davos, inisiatif ini tidak sepenuhnya mendapat dukungan global. Sejumlah negara Uni Eropa, termasuk Prancis, serta China, memilih untuk tidak ikut serta.
Negara-negara tersebut menyatakan lebih memilih mekanisme di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menangani pemulihan Gaza. Mereka menilai dominasi dewan bentukan Amerika Serikat berpotensi melemahkan peran sentral PBB dalam menjaga tatanan internasional.
Namun, bagi Presiden Prabowo dan tujuh pemimpin negara Muslim lainnya, kebutuhan mendesak untuk menghentikan kekerasan dan penderitaan rakyat Gaza dinilai jauh lebih penting dibandingkan perdebatan prosedural di forum internasional.