Penulis: Siti Fatimah Nai (Peserta Latihan Khusus KOHATI Cabang Wajo tahun 2026)
Ikolom.News – Perempuan sering kali dikenal memiliki kepekaan emosional yang tinggi. Kepekaan ini merupakan anugerah karena membuat perempuan lebih mudah berempati, peduli, dan mampu membaca situasi di sekitarnya. Namun, ketika kepekaan tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola pikiran, ia dapat berubah menjadi overthinking—kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga menguras energi, waktu, dan ketenangan hati.
Overthinking bukan sekadar banyak berpikir. Ia adalah kondisi ketika seseorang terus-menerus mengulang kemungkinan terburuk, menyesali masa lalu, atau mencemaskan masa depan tanpa menemukan solusi yang nyata. Pikiran yang seharusnya menjadi alat untuk mengambil keputusan justru berubah menjadi sumber kecemasan.
Banyak perempuan mengalami overthinking karena berbagai faktor: tuntutan untuk menjadi anak yang berbakti, mahasiswi yang berprestasi, pekerja yang profesional, istri yang baik, ibu yang sempurna, hingga tekanan dari standar sosial dan media sosial. Akhirnya, perempuan sering merasa harus selalu kuat, selalu benar, dan selalu memenuhi harapan orang lain.
Padahal, kesehatan mental tidak diukur dari seberapa banyak beban yang mampu dipikul, melainkan dari bagaimana seseorang mampu mengenali batas dirinya. Tidak semua hal harus dikendalikan. Tidak semua penilaian orang harus dipercaya. Tidak semua kekhawatiran akan benar-benar terjadi.
Dalam perspektif psikologi, overthinking sering muncul karena adanya distorsi kognitif, yaitu cara berpikir yang membuat seseorang membesar-besarkan masalah, menyalahkan diri sendiri, atau membayangkan skenario terburuk tanpa bukti yang cukup. Oleh karena itu, pikiran perlu dilatih agar lebih realistis dan seimbang.
Islam juga mengajarkan agar manusia tidak larut dalam prasangka dan kecemasan yang berlebihan. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak semua yang kita pikirkan adalah kenyataan. Sering kali kecemasan hanya hidup di dalam pikiran kita, bukan dalam realitas.
Cara Mengelola Pikiran Sehat
1. Sadari apa yang sedang dirasakan. Beri nama pada emosi yang muncul: cemas, takut, sedih, atau kecewa. Kesadaran adalah langkah pertama menuju ketenangan.
2. Bedakan fakta dan asumsi. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini benar-benar terjadi, atau hanya dugaan saya?”
3. Fokus pada hal yang dapat dikendalikan. Jangan menghabiskan energi untuk sesuatu yang berada di luar kuasa kita.
4. Batasi perbandingan dengan orang lain. Setiap perempuan memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Media sosial sering hanya menampilkan bagian terbaik dari kehidupan seseorang.
5. Rawat hubungan dengan Allah. Shalat yang khusyuk, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa membantu menenangkan hati. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
6. Beristirahat tanpa merasa bersalah. Tubuh dan pikiran membutuhkan jeda. Beristirahat bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
7. Berbicaralah kepada orang yang dipercaya. Tidak semua beban harus dipikul sendirian. Dukungan dari keluarga, sahabat, atau tenaga profesional dapat membantu melihat masalah dengan lebih jernih.
Menjadi perempuan bukan berarti harus selalu kuat tanpa pernah lelah. Menjadi perempuan adalah tentang mampu menerima bahwa diri ini juga manusia yang boleh menangis, boleh beristirahat, dan boleh meminta pertolongan. Pikiran yang sehat bukan berarti tidak pernah memiliki masalah, tetapi mampu menghadapi masalah dengan hati yang tenang, cara berpikir yang bijaksana, dan keyakinan bahwa setiap kesulitan akan selalu disertai jalan keluar.
Perempuan yang hebat bukanlah mereka yang tidak pernah overthinking, melainkan mereka yang mampu mengubah kecemasan menjadi ikhtiar, mengubah ketakutan menjadi keberanian, dan mengubah setiap ujian menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah.
