Burnout pada Perempuan Aktif Berorganisasi: Saat Semangat Mengabdi Berubah Menjadi Beban

Penulis: St. Rofiah Sultan (Peserta Latihan Khusus KOHATI Cabang Wajo tahun 2026)

Ikolom.News – Menjadi perempuan yang aktif di organisasi sering kali dipandang sebagai simbol kepemimpinan, dedikasi, dan kemampuan mengelola banyak tanggung jawab sekaligus. Namun, di balik pencapaian tersebut, tidak sedikit perempuan yang mengalami burnout akibat tuntutan yang terus menumpuk tanpa diimbangi dengan waktu untuk memulihkan diri.

Perempuan yang aktif di organisasi kerap menjalankan peran ganda. Mereka harus menyeimbangkan kewajiban akademik atau pekerjaan, tanggung jawab keluarga, serta amanah organisasi. Di sisi lain, ada dorongan untuk selalu hadir, selalu bisa diandalkan, dan selalu memberikan hasil terbaik. Akibatnya, banyak perempuan merasa sulit menolak tugas baru karena khawatir dianggap tidak kompeten atau kurang berkomitmen.

Budaya organisasi yang mengagungkan kesibukan juga menjadi salah satu faktor penyebab burnout. Semakin banyak agenda yang diikuti, semakin dianggap aktif dan berdedikasi. Padahal, produktivitas tidak selalu diukur dari banyaknya aktivitas, melainkan dari kualitas kontribusi yang diberikan.

Burnout bukan hanya soal kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan emosional dan mental. Seseorang yang mengalaminya dapat kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, hingga mulai mempertanyakan makna dari aktivitas yang selama ini dijalani. Jika terus dibiarkan, kondisi ini dapat mengganggu kesehatan mental sekaligus menurunkan kualitas kepemimpinan dalam organisasi.

Organisasi seharusnya tidak hanya berfokus pada pencapaian program kerja, tetapi juga membangun budaya yang sehat bagi para anggotanya. Pembagian tugas yang proporsional, komunikasi yang terbuka, serta penghargaan terhadap waktu istirahat merupakan langkah sederhana yang dapat mencegah burnout.

Bagi perempuan yang aktif berorganisasi, penting untuk menyadari bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus memikul semua beban sendirian. Berani menetapkan batasan, meminta bantuan, dan meluangkan waktu untuk diri sendiri bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan fisik dan mental.

Pada akhirnya, organisasi membutuhkan perempuan yang tidak hanya aktif, tetapi juga sehat, tangguh, dan mampu bertahan dalam jangka panjang. Sebab, pengabdian yang berkelanjutan hanya dapat lahir dari individu yang mampu menjaga keseimbangan antara memberi manfaat bagi orang lain dan merawat dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *