Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 per Dolar Minggu Depan

IKOLOM.NEWS, NASIONAL – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat mata uang Garuda berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar AS pada pekan depan.

Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup besar dan dapat berlanjut hingga ke level yang lebih tinggi.

“Untuk harga rupiah dalam minggu ini kalau tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya melihat kalau Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini akan menuju di Rp 18.200,” kata Ibrahim mengutik detik.com, Jumat (29/5/2026).

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor teknikal maupun kebijakan moneter Bank Indonesia, tetapi juga dipengaruhi persoalan struktural ekonomi nasional. Salah satu yang disorotinya adalah defisit neraca transaksi berjalan yang masih sangat bergantung pada impor energi, khususnya minyak mentah.

“Di APBN itu (harga minyak) US$ 70 per barrel, rupiahnya di 16.500. Tetapi sekarang rupiahnya sudah di angka anggap saja Rp 17.900, kemudian minyak mentahnya bukan di US$ 70 tapi di atas US$ 90. Pemerintah harus mengeluarkan dolar yang cukup besar. Sedangkan impor minyak mentah ini 85% itu larinya subsidi. Nah sehingga apa? Ini beban, tekanan bagi pemerintah untuk menutupi defisit ini,” tutur Ibrahim.

Ia juga menyoroti tingginya kebutuhan dolar di pasar modal, terutama untuk pembayaran dividen perusahaan kepada investor asing. Kondisi tersebut dinilai semakin menekan nilai tukar rupiah.

“Sudah kita kekurangan dolar, kemudian beban dividen yang harus dibagikan terhadap para investor, terutama investor asing di perusahaan-perusahaan yang listing di bursa, di pasar modal. Nah ini membuat satu kegaduhan tersendiri,” ucap Ibrahim.

Selain itu, Ibrahim menyebut pergerakan harga emas dunia masih fluktuatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Penguatan dolar terhadap rupiah membuat investor dinilai mulai mengalihkan investasi dari emas ke dolar demi mencari keuntungan jangka pendek.

“Dana yang tadinya mereka investasikan di logam mulia, di emas digital, mereka pindahkan. Kenapa? Momentum untuk mendapatkan keuntungan secara jangka pendek itu ada di indeks dolar, bukan di logam mulia,” ujarnya.

Ibrahim turut menyoroti kebijakan pemerintah terkait rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. Menurutnya, kebijakan tersebut menimbulkan keraguan di kalangan investor asing terhadap kepastian regulasi di Indonesia.

“Ekspor satu pintu melalui DSI ini membuat kegaduhan. Memang secara jangka panjang bagus, karena pemerintahan di luar negeri pun sama, di Eropa juga sama seperti itu. Tapi karena dalam kondisi yang tidak baik-baik saja saat ini ekonomi, ini membuat kegaduhan tersendiri,” jelas Ibrahim.

“Pemerintah benar bahwa dengan satu pintu ini kemungkinan besar tidak akan ada kebocoran untuk ekspor ilegal. Karena selalu tidak sesuai secara kertas dan secara teknis itu berbeda. Tetapi ini pun juga menjadi beban tersendiri, terutama bagi perusahaan-perusahaan tambang yang sudah melakukan kontrak kerja jangka pendek maupun jangka menengah, jangka panjang dengan perusahaan-perusahaan di luar negeri,” sambungnya.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira. Ia menilai pelemahan rupiah masih akan berlanjut dan berpotensi bergerak cepat jika sudah melewati batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.

“Jadi bahkan bukan Rp 18.000, tapi level psikologis setelah Rp 18.000 ke Rp 19.000, pelemahannya akan jauh lebih cepat karena batas psikologisnya memang sudah menembus,” tuturnya.

Menurut Bhima, sentimen negatif investor asing terhadap sejumlah kebijakan pemerintah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Salah satunya terkait rencana ekspor satu pintu melalui DSI.

“Ini perubahannya terjadi begitu cepat, diumumkan begitu cepat. Sebelumnya bahkan belum ada sosialisasi ataupun pembahasan misalnya dengan para pelaku usaha. Sehingga ini juga menurunkan minat berinvestasi di Indonesia,” jelasnya.

Bhima menambahkan, pelaku pasar saat ini juga masih mencermati kondisi fiskal domestik dan efektivitas sejumlah program pemerintah yang dinilai dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

“Ada kekhawatiran defisit APBN-nya masih akan terus melebar karena ada beban biaya subsidi energi, dan juga ada beban dari program-program populis atau program mercusuar Prabowo seperti MBG, Kopdes Merah Putih yang efek ekonominya masih diragukan tapi anggarannya cukup besar,” papar Bhima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *