IKOLOM.NEWS, MAKASSAR — Dewan Pakar CIDES ICMI Sulsel, Prof Hamid Paddu menilai Sulawesi Selatan memiliki sumber daya manusia yang melimpah, namun belum didukung oleh ekosistem yang mampu mengolah potensi tersebut menjadi gagasan besar untuk mendorong pembangunan daerah.
Menurut guru besar ekonomi Unhas itu, jika diukur dari kualitas sumber daya manusia, Sulawesi Selatan sesungguhnya memiliki modal yang sangat kuat.
“Padahal jika yang dihitung adalah sumber daya manusia, Sulawesi Selatan tidak miskin. Kita memiliki masyarakat yang ulet dan tangguh, puluhan perguruan tinggi, ratusan profesor, ribuan doktor, birokrat berpengalaman, pengusaha tangguh, serta diaspora yang tersebar di berbagai pusat ekonomi Indonesia dan dunia,” kata Prof Hamid ditulisan opininya yang dipublikasikan Tribun.
Meski demikian, ia menilai potensi tersebut belum terhubung dalam sebuah sistem yang mampu menghasilkan pemikiran strategis secara berkelanjutan. Karena itu, Prof Hamid menyebut persoalan utama Sulawesi Selatan bukanlah kekurangan orang pintar, melainkan belum hadirnya “mesin gagasan” yang dapat menghimpun, mengolah, dan menerjemahkan ide menjadi kebijakan serta program pembangunan.
“Sulawesi Selatan tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan mesin gagasan,” katanya.
Ia juga menyoroti posisi Sulawesi Selatan yang dinilai masih lebih banyak menjadi penerima kebijakan dibandingkan penghasil kebijakan.
“Sulawesi Selatan sering menjadi pasar. Belum sepenuhnya menjadi pusat gagasan. Kita lebih sering menjadi objek kebijakan daripada produsen kebijakan. Lebih sering menerima program daripada merancang masa depan,” ungkapnya.
Menurut Prof Hamid, kondisi tersebut cukup ironis mengingat Makassar pernah memainkan peran penting dalam sejarah perdagangan kawasan.
“Padahal sejak masa perdagangan maritim Nusantara, Makassar pernah menjadi salah satu simpul ekonomi terpenting di Asia Tenggara,” ujarnya.
Ia menilai ada mata rantai yang terputus dalam perjalanan panjang pembangunan daerah, terutama dalam hal penguatan institusi yang mampu melahirkan ide-ide besar secara konsisten.
“Ada sesuatu yang hilang dalam perjalanan panjang itu. Bukan keberanian. Bukan sumber daya. Melainkan institusi yang secara konsisten menghasilkan ide besar,” katanya.
Karena itu, Prof Hamid mendorong lahirnya gerakan besar untuk memperkuat kapasitas berpikir strategis dan inovasi di Sulawesi Selatan melalui penguatan pusat kajian, think tank, kolaborasi perguruan tinggi, dunia usaha, birokrasi, dan masyarakat sipil.
“Diperlukan revolusi kecerdasan, revolusi gagasan Sulawesi,” tegasnya.
Menurutnya, kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan zaman dan diterjemahkan menjadi kebijakan yang berdampak bagi masyarakat.
