IKOLOM.NEWS, INTERNASIONAL – Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Jumat (19/6/2026) setelah menilai sejumlah syarat dalam kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) belum terpenuhi.
Di antaranya terkait keberadaan pasukan AS di kawasan, pasukan Israel di Lebanon, serta pencabutan blokade laut secara penuh.
Penutupan kembali jalur strategis perdagangan minyak dunia itu diumumkan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui pesan yang dibacakan di saluran radio maritim.
IRGC menyatakan langkah tersebut diambil karena Amerika Serikat dinilai melanggar nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang sebelumnya ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6/2026).
“Karena penarikan Israel dari Lebanon, pencabutan penuh blokade angkatan laut, dan penarikan pasukan teroris Amerika dari Teluk Persia dan kawasan merupakan beberapa syarat utama perjanjian antara Iran dan Amerika Serikat, Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai syarat-syarat ini terpenuhi,” kata IRGC.
“Semua kapal diminta, demi keamanan dan keselamatan mereka, untuk tidak mendekati Selat Hormuz. Kapal apa pun yang menentang arahan ini akan menjadi sasaran.”
Sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/Centcom) pada Kamis (18/6/2026) menyatakan telah mencabut blokade selama dua bulan terhadap pelabuhan Iran. Namun, belum ada kejelasan mengenai maksud Teheran yang menyebut pencabutan blokade laut tersebut belum dilakukan secara “penuh”.
Penutupan kembali Selat Hormuz juga terjadi hanya beberapa jam setelah putaran pertama perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang dirancang berdasarkan MoU dibatalkan.
Menurut laporan AFP, Wakil Presiden AS JD Vance dan negosiator utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dijadwalkan bertemu di Swiss bersama mediator dari Pakistan dan Qatar pada Jumat (19/6/2026) untuk memulai perundingan. Namun, pertemuan itu mendadak ditunda.
Pemerintah Amerika Serikat belum memberikan alasan atas penundaan tersebut. Sementara itu, seorang sumber kepada New York Post menyebut sejumlah kelompok garis keras di pemerintahan Iran menolak kehadiran delegasi Teheran dalam acara penandatanganan MoU yang akhirnya dibatalkan.
Kelompok tersebut disebut menuntut Israel menarik pasukannya dari Lebanon selatan, wilayah yang menjadi lokasi operasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah.
Sebelum kembali ditutup, Selat Hormuz sempat dibuka dan aktivitas pelayaran meningkat. Data perusahaan pelacakan maritim AXSMarine pada Kamis (18/6/2026) mencatat sebanyak 25 kapal komersial melintasi selat tersebut, menjadi jumlah harian tertinggi sejak pertengahan April.
Lonjakan lalu lintas kapal terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat menyepakati pembukaan kembali jalur vital tersebut sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang.
“Pada 18 Juni, kami mengamati 25 pelintasan kapal komersial terverifikasi melalui Selat Hormuz—jumlah harian tertinggi sejak 18 April dan lebih dari lima kali lipat rata-rata harian yang tercatat dalam sepuluh hari pertama Juni,” kata AXSMarine.
Iran sebelumnya menutup Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat dan Israel memicu perang pada 28 Februari. Sejak saat itu, otoritas maritim melaporkan puluhan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.
