MAKASSAR — Organisasi penyandang disabilitas di Kota Makassar didorong untuk tidak hanya mengandalkan dukungan donor internasional dalam menjalankan program. Diversifikasi sumber pendanaan dan penguatan jejaring kemitraan dinilai menjadi kunci agar organisasi tetap bertahan dan menjalankan program secara berkelanjutan.
Pesan itu mengemuka dalam Pelatihan Fundraising dan Pengembangan Program yang diselenggarakan YASMIB Sulawesi dengan dukungan SATUNAMA di Remcy Panakkukang, Makassar, pada 23-24 Juli 2026.
Pelatihan ini mempertemukan sejumlah organisasi dan komunitas yang bergerak dalam isu disabilitas dan inklusi di Kota Makassar. Di antaranya HWDI Makassar, Komunitas Pejuang Pulih, PERDIK, Gerkatin, YASMIB Sulawesi, Formasi, Yayasan Klub Belajar Sipatokkong, PPDI Kota Makassar, Mentari Foundation, Balla’ Inklusi, dan SP-AM.
Fasilitator dari SATUNAMA, Karel Tuhehay, mengatakan ketergantungan terhadap satu sumber pendanaan dapat menjadi tantangan bagi keberlangsungan organisasi. Karena itu, organisasi penyandang disabilitas perlu mulai membangun strategi pendanaan yang lebih beragam.
“Organisasi tidak boleh bergantung pada satu sumber pendanaan saja. Meskipun masih memperoleh dukungan dari donor internasional, organisasi perlu mulai memperluas jejaring dan mencari peluang pendanaan dari berbagai sumber, terutama donor lokal,” kata Karel dalam pelatihan tersebut.
Menurut Karel, diversifikasi pendanaan bukan sekadar upaya mencari uang untuk membiayai program. Lebih dari itu, strategi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian organisasi dan memastikan program tetap berjalan ketika dukungan dari donor utama berakhir.
Dalam pelatihan, peserta diajak mengenali berbagai strategi penggalangan dana yang dapat disesuaikan dengan kapasitas dan karakter organisasi. Strategi tersebut mencakup event fundraising, pendekatan langsung kepada calon donor, fundraising berbasis jejaring, online fundraising, crowdfunding, donasi dalam bentuk barang, hingga pengembangan social business.
Peserta juga dibekali kemampuan untuk menyusun program dan proposal yang lebih berkualitas. Kemampuan tersebut dinilai penting agar organisasi tidak hanya mampu mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, tetapi juga dapat menawarkan program yang relevan dan meyakinkan kepada calon mitra maupun donor.
Di sisi lain, membangun hubungan dengan calon donor juga menjadi bagian penting dalam strategi fundraising. Komunikasi yang efektif, kepercayaan, dan kemampuan menjaga hubungan menjadi modal untuk membangun kemitraan jangka panjang.
“Fundraising bukan hanya soal meminta dukungan. Ada proses membangun komunikasi, kepercayaan, dan hubungan yang harus dijaga,” menjadi salah satu penekanan dalam proses pembelajaran peserta.
Bagi organisasi yang masih berada dalam tahap awal pengembangan, pelatihan ini menjadi ruang untuk memperkuat fondasi kelembagaan sekaligus memperluas peluang kolaborasi.
Perwakilan Mentari Foundation mengatakan pelatihan tersebut memberikan manfaat bagi organisasinya yang tengah berkembang. Meski proses legalitas masih berjalan, organisasi itu telah mendapatkan dukungan di tingkat nasional dan pendanaan awal untuk menjalankan program di bidang kesehatan mental.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi organisasi kami yang baru berkembang. Meskipun masih dalam proses penyelesaian legalitas, kami telah memperoleh dukungan di tingkat nasional dan pendanaan awal untuk menjalankan program di bidang kesehatan mental. Melalui pelatihan fundraising ini, kami semakin siap mengembangkan program dan membangun kemitraan yang lebih luas,” ujar perwakilan Mentari Foundation.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini diharapkan menjadi langkah awal bagi organisasi peserta untuk menerjemahkan pengetahuan yang diperoleh ke dalam aksi nyata. Mulai dari memperbaiki proposal program, memetakan calon donor, memperluas jejaring, hingga menyusun rencana tindak lanjut di masing-masing organisasi.
Dengan semakin kuatnya kapasitas fundraising dan pengembangan program, organisasi penyandang disabilitas diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan keberlangsungan lembaganya, tetapi juga memperluas dampak program dan memperkuat gerakan inklusi di Kota Makassar.
