Penulis: Siti Fatimah Nai (Peserta Latihan Khusus KOHATI Cabang Wajo 2026)
Ikolom.News – Konsep diri bukan sekadar mengenal nama, latar belakang, atau kemampuan yang kita miliki. Konsep diri adalah keberanian untuk mempertanyakan siapa diri kita, untuk apa kita hidup, dan nilai apa yang kita perjuangkan. Menjadi manusia berarti tidak hanya menerima identitas yang diwariskan oleh lingkungan, tetapi juga membangun identitas melalui kesadaran, ilmu, dan perjuangan. Sebab, manusia yang tidak mengenal dirinya akan mudah kehilangan arah dan dikendalikan oleh kepentingan orang lain.
Radikal dalam konsep diri bukan berarti ekstrem atau destruktif. Radikal berarti kembali ke akar. Menggali hakikat diri hingga ke dasar yang paling dalam, lalu membangun kehidupan di atas prinsip yang kokoh. Konsep diri yang radikal menolak hidup tanpa tujuan, menolak menjadi pribadi yang hanya mengikuti arus, dan menolak membiarkan identitas dibentuk oleh tren, popularitas, ataupun tekanan sosial. Ia memilih berpikir, bertanya, mengkritik, dan bertindak berdasarkan nilai yang diyakininya benar.
Dalam Islam, konsep diri yang radikal berangkat dari kesadaran bahwa manusia adalah hamba Allah sekaligus khalifah di bumi. Kesadaran ini menuntut setiap individu untuk tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kondisi sosial. Ilmu tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus melahirkan keberpihakan kepada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Sebab, ilmu yang tidak melahirkan keberanian hanyalah pengetahuan yang kehilangan makna.
Sebagai kader HMI dan KOHATI, konsep diri tidak boleh berhenti pada kebanggaan memakai atribut organisasi. Konsep diri harus menjadi kesadaran ideologis bahwa setiap kader adalah agen perubahan yang bertugas membangun masyarakat yang adil, beradab, dan diridai Allah SWT. Kader sejati tidak mencari pengakuan, tetapi memberi dampak. Tidak mengejar popularitas, tetapi memperjuangkan kemaslahatan. Tidak tunduk pada budaya yang melemahkan akal dan moral, tetapi menghadirkan pemikiran yang membebaskan.
Perempuan yang memiliki konsep diri yang kuat tidak akan mengukur nilai dirinya dari standar kecantikan, validasi media sosial, ataupun penerimaan masyarakat. Ia mengetahui bahwa kemuliaannya lahir dari ilmu, akhlak, integritas, dan keberaniannya memperjuangkan kebenaran. Ia tidak takut berbeda ketika perbedaan itu berdiri di atas nilai yang benar, dan ia tidak diam ketika ketidakadilan terjadi di hadapannya.
Pada akhirnya, konsep diri yang radikal adalah kesadaran bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian mengenal diri sendiri. Sebab, seseorang yang telah menemukan jati dirinya tidak akan mudah dipengaruhi, tidak mudah diperjualbelikan prinsipnya, dan tidak mudah menyerah pada keadaan. Ia akan terus belajar, berpikir, dan bergerak, karena ia memahami bahwa hidup bukan sekadar tentang menjadi ada, tetapi tentang menghadirkan makna bagi agama, bangsa, dan peradaban.
