Penulis: St. Rofiah Sultan (Peserta Latihan Khusus KOHATI Cabang Wajo 2026)
Ikolom.News – Di era media sosial, kita begitu mudah mengenal kehidupan orang lain, tetapi sering kali lupa mengenal diri sendiri. Kita sibuk membandingkan pencapaian, penampilan, hingga perjalanan hidup, padahal setiap orang memiliki cerita yang berbeda. Di sinilah konsep diri menjadi sangat penting.
Konsep diri bukan sekadar mengetahui nama, usia, atau pekerjaan kita. Konsep diri adalah cara kita memandang, menilai, dan memahami siapa diri kita sebenarnya. Cara kita berbicara kepada diri sendiri, menerima kekurangan, menghargai kelebihan, hingga menentukan arah hidup, semuanya berawal dari konsep diri yang kita bangun.
Konsep diri terdiri atas tiga hal yang saling berkaitan. Pertama, citra diri (self-image), yaitu bagaimana kita melihat diri sendiri. Kedua, harga diri (self-esteem), yaitu bagaimana kita menghargai dan menerima diri apa adanya. Ketiga, diri ideal (ideal-self), yaitu gambaran tentang pribadi yang ingin kita capai di masa depan. Ketiganya membentuk fondasi bagi setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil.
Namun, konsep diri tidak terbentuk dalam ruang kosong. Ia dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan, pengalaman hidup, kritik, pujian, bahkan budaya digital yang setiap hari kita konsumsi. Tidak sedikit orang yang akhirnya menilai dirinya berdasarkan validasi orang lain. Ketika dipuji, ia merasa berharga. Ketika dikritik, ia merasa tidak berarti. Padahal, nilai diri seharusnya tidak bergantung pada komentar manusia.
Menurut saya, konsep diri yang sehat bukanlah tentang merasa paling hebat atau menutupi kekurangan. Sebaliknya, konsep diri yang sehat adalah keberanian untuk menerima diri secara realistis, terus bertumbuh, dan tidak kehilangan arah hanya karena penilaian orang lain. Orang yang mengenal dirinya akan lebih tenang menghadapi kegagalan, lebih rendah hati saat berhasil, dan lebih bijak dalam menjalani kehidupan.
Dalam perspektif Islam, setiap manusia diciptakan Allah SWT dengan potensi dan keistimewaannya masing-masing. Karena itu, membandingkan diri secara berlebihan hanya akan menghambat proses bertumbuh. Yang seharusnya kita lakukan adalah terus memperbaiki diri, mengembangkan potensi, dan menjadikan versi terbaik diri kita sebagai tujuan hidup.
Pada akhirnya, perubahan besar selalu dimulai dari pengenalan terhadap diri sendiri. Sebab, seseorang yang mengenal dirinya tidak akan mudah kehilangan jati dirinya di tengah derasnya arus zaman. Konsep diri bukan hanya tentang “siapa aku hari ini”, tetapi juga tentang “akan menjadi siapa aku di masa depan.”
