IKOLOM.NEWS, NASIONAL — Pesantren Khatamun Nabiyyin melalui Khatam Institut menginisiasi program Kelas Literasi Sabtu sebagai upaya memperkuat budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis di kalangan mahasantri di tengah derasnya arus informasi digital.
Program ini hadir sebagai respons terhadap tantangan literasi di era digital, ketika akses informasi semakin mudah namun tidak selalu diiringi kemampuan memahami, memilah, dan mengolah informasi secara mendalam.
Dalam kegiatan tersebut, Direktur Utama BRIM (Badan Riset Mahasantri dan Intelektual Khatamun Nabiyyin), Aswar A, menegaskan bahwa literasi tidak boleh dipahami hanya sebagai kemampuan membaca teks.
“Literasi adalah fondasi cara berpikir. Tanpa literasi yang kuat, seseorang mudah terseret informasi yang tidak valid dan kehilangan daya kritisnya,” tegasnya dalam sesi dialog bersama mahasantri.
Menurut Aswar, literasi berperan penting dalam membangun kemandirian intelektual, ketajaman analisis, serta ketahanan berpikir di tengah ekosistem digital yang serba cepat dan penuh distraksi.
Secara konseptual, literasi dalam program tersebut dipahami melalui tiga dimensi, yakni literasi teks (kutub), literasi alam (afaq), dan literasi diri (anfus). Pendekatan ini menegaskan bahwa membaca tidak hanya berkaitan dengan buku, tetapi juga realitas sosial dan refleksi diri sebagai sumber pengetahuan.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD). Mahasantri dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk membaca buku, mendiskusikan isi bacaan, serta mempresentasikan hasil analisis secara kritis.
Metode tersebut dirancang untuk mendorong budaya belajar yang lebih aktif, kolaboratif, dan argumentatif, sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis di lingkungan pesantren.
Program ini juga menjadi respons terhadap krisis literasi dan lemahnya budaya berpikir kritis yang dinilai berkontribusi pada mudahnya penyebaran informasi palsu serta dangkalnya pemahaman terhadap berbagai isu sosial dan keagamaan.
Melalui Kelas Literasi Sabtu, Pesantren Khatamun Nabiyyin berharap dapat membangun ekosistem literasi yang tidak berhenti pada kegiatan kelas semata, melainkan tumbuh menjadi budaya berpikir yang hidup dan berkembang di kalangan mahasantri. (*)
