ANTARA GYM DAN REBAHAN Ketika Niat Sehat Anak Muda Berhenti di Kolom Komentar

Oleh : Aidil Syafridah, S.Tr. Kes (ft)
Praktisi Fisioterapi dan Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat 

Ikolom.News – Ada pemandangan baru yang akrab di layar ponsel anak muda hari ini: foto sepatu lari di tepi jalan, unggahan gym selfie dengan caption penuh semangat, video pendek tentang meal prep, sampai story berisi janji untuk mulai hidup sehat hari Senin. Di Sulawesi Selatan, terutama di ruang urban seperti Makassar, gaya hidup sehat tidak lagi terdengar asing. Ia sudah masuk ke bahasa sehari-hari, menjadi bahan obrolan, bahkan menjadi bagian dari citra diri di media sosial.

Namun, di balik riuhnya konten sehat itu, ada pertanyaan yang sering luput: seberapa banyak dari niat itu benar-benar berubah menjadi kebiasaan? Banyak anak muda tahu bahwa olahraga itu penting. Mereka paham bahwa bergerak dapat menjaga berat badan, memperbaiki suasana hati, mengurangi risiko penyakit, dan membuat tubuh terasa lebih bugar. Tetapi pengetahuan semacam itu tidak selalu cukup untuk mengangkat tubuh dari kasur, mengikat tali sepatu, lalu keluar berkeringat. Di titik inilah muncul paradoks yang menarik: kesadaran meningkat, tetapi perilaku belum tentu mengikuti.

Fenomena ini bukan sekadar soal malas. Menyebut anak muda malas justru terlalu mudah dan kurang adil. Dalam kajian perilaku, ada jarak yang cukup lebar antara mengetahui, berniat, dan benar-benar melakukan. Orang bisa sangat yakin bahwa olahraga itu baik, tetapi tetap gagal menjalankannya secara konsisten. Orang bisa menyimpan banyak video workout, membeli pakaian olahraga, bahkan mendaftar ke pusat kebugaran, tetapi aktivitas fisiknya tetap hanya terjadi sesekali. Niat ada, tetapi perilaku tidak hadir dengan stabil.

Theory of Planned Behavior yang dikembangkan Icek Ajzen membantu membaca persoalan ini dengan lebih tajam. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku tidak muncul begitu saja, melainkan didahului oleh niat. Niat sendiri dibentuk oleh tiga hal: sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku. Dengan kata lain, seseorang akan lebih mungkin melakukan sesuatu jika ia menilai perilaku itu baik, merasa lingkungannya mendukung atau mengharapkannya, dan percaya bahwa ia mampu melakukannya.

Dalam konteks olahraga anak muda, unsur pertama tampaknya tidak terlalu bermasalah. Sikap mereka terhadap olahraga umumnya positif. Hampir tidak ada anak muda yang secara sadar mengatakan bahwa olahraga tidak penting. Mereka tahu manfaatnya. Mereka menyukai citra tubuh bugar. Mereka juga memahami bahwa gaya hidup sedentari tidak baik bagi kesehatan. Masalahnya, sikap positif sering berhenti sebagai persetujuan mental. Ia belum tentu menjadi rutinitas tubuh.

Unsur kedua, norma subjektif, justru menjadi lebih rumit di era media sosial. Dulu, tekanan sosial untuk hidup sehat mungkin datang dari keluarga, guru, tenaga kesehatan, atau teman dekat. Kini tekanan itu juga datang dari influencer, komunitas digital, algoritma, dan standar tubuh ideal yang terus muncul di layar. Anak muda tidak hanya didorong untuk sehat, tetapi juga untuk terlihat sehat. Ini perbedaannya penting. Media sosial sering kali tidak menuntut konsistensi, melainkan tampilan. Cukup satu foto di gym, satu story lari pagi, atau satu unggahan makanan sehat, seseorang sudah tampak seperti bagian dari gaya hidup sehat.

Di sinilah masalahnya. Ketika olahraga berubah menjadi simbol sosial, yang dikejar tidak selalu kesehatan, melainkan pengakuan. Dorongan untuk bergerak dapat bergeser menjadi dorongan untuk tampil. Anak muda mungkin merasa sudah ikut dalam budaya sehat hanya karena menyukai konten olahraga, memberi komentar, membagikan video, atau menulis caption motivasional. Aktivitas digital itu memberi rasa puas, seolah-olah seseorang sudah melakukan sesuatu. Padahal tubuhnya belum benar-benar bergerak.

Unsur ketiga adalah yang paling menentukan: persepsi kontrol perilaku. Banyak orang sebenarnya ingin olahraga, tetapi merasa sulit melakukannya secara nyata. Alasannya sangat manusiawi. Jadwal kuliah padat. Pekerjaan menumpuk. Cuaca panas. Jarak fasilitas olahraga tidak dekat. Tidak ada teman. Pulang sore sudah lelah. Malam hari ingin istirahat. Dalam kehidupan sehari-hari, hambatan kecil seperti ini sering lebih kuat daripada motivasi besar yang muncul sesaat setelah menonton video inspiratif.

Di Sulawesi Selatan, konteks sosial dan lingkungan juga tidak bisa diabaikan. Di kota besar, aktivitas harian sering menyita waktu dan energi. Di sisi lain, ruang aman dan nyaman untuk aktivitas fisik belum selalu merata. Ada yang ingin lari pagi, tetapi tidak punya lingkungan yang mendukung. Ada yang ingin ke gym, tetapi merasa biayanya tidak ringan. Ada pula yang ingin mulai olahraga, tetapi malu karena merasa belum cukup bugar. Maka, persoalannya bukan hanya apakah seseorang mau bergerak, tetapi apakah lingkungan hidupnya membuat gerak itu terasa mungkin.

Budaya citra juga memberi lapisan tambahan. Dalam masyarakat yang sangat memperhatikan kesan sosial, termasuk dalam budaya lokal yang menempatkan harga diri dan penilaian orang lain sebagai sesuatu yang penting, tampil bugar dapat menjadi bagian dari identitas. Ini tidak selalu buruk. Citra dapat menjadi pintu masuk untuk perubahan perilaku. Namun, bila yang diperkuat hanya tampilan luar, perilaku sehat akan mudah rapuh. Ia bertahan selama ada penonton, lalu memudar ketika tidak ada lagi yang melihat.

Karena itu, promosi kesehatan untuk anak muda tidak cukup hanya mengulang pesan bahwa olahraga itu penting. Pesan semacam itu sudah terlalu sering didengar. Yang dibutuhkan adalah strategi yang membantu mereka menjembatani niat menuju tindakan. Kampanye kesehatan perlu turun dari slogan besar ke langkah kecil yang realistis: berjalan kaki 15 menit, naik tangga, melakukan peregangan di kamar, bersepeda jarak dekat, atau membuat janji olahraga bersama teman dua kali seminggu. Perubahan perilaku sering tidak lahir dari tekad dramatis, tetapi dari kebiasaan kecil yang bisa diulang.

Media sosial juga perlu dipakai dengan cara yang lebih cerdas. Alih-alih hanya menampilkan tubuh ideal dan rutinitas yang tampak sempurna, konten kesehatan seharusnya lebih jujur memperlihatkan proses. Anak muda perlu melihat bahwa olahraga tidak harus selalu estetik, mahal, atau layak difoto. Keringat yang tidak rapi, napas yang terengah, percobaan yang gagal, dan rutinitas pendek yang dilakukan konsisten justru lebih dekat dengan kenyataan. Promosi kesehatan yang terlalu sempurna kadang membuat orang merasa jauh sebelum sempat memulai.

Komunitas juga penting. Anak muda lebih mudah bergerak ketika perilaku sehat menjadi pengalaman sosial, bukan beban individual. Kampus, organisasi pemuda, komunitas lokal, tempat kerja, dan ruang publik dapat menciptakan kegiatan sederhana yang membuat olahraga terasa akrab. Bukan kompetisi siapa paling kuat, bukan pula ajang pamer tubuh, melainkan ruang untuk mulai bergerak bersama. Dalam banyak kasus, teman yang mengajak berjalan kaki bisa lebih efektif daripada poster kesehatan yang penuh angka statistik.

Pada akhirnya, masalah kita bukan kekurangan niat. Niat untuk hidup sehat berlimpah di media sosial: di caption Instagram, di status WhatsApp, di komentar video workout, dan di janji yang berulang setiap awal pekan. Yang kurang adalah jembatan yang kokoh antara niat dan tindakan. Anak muda tidak hanya membutuhkan motivasi, tetapi juga lingkungan yang mendukung, rencana yang konkret, kebiasaan yang sederhana, dan norma sosial yang menghargai proses, bukan sekadar penampilan.

Maka, daripada terus menertawakan anak muda yang lebih sering rebahan daripada berolahraga, lebih baik kita membaca fenomena ini sebagai tantangan promosi kesehatan. Tugasnya bukan menyalahkan, melainkan merancang cara agar perilaku sehat lebih mudah dilakukan. Sebab dalam kehidupan nyata, perubahan perilaku jarang dimulai dari kalimat heroik. Ia lebih sering dimulai dari keputusan kecil: berdiri dari kasur, keluar rumah sebentar, berjalan beberapa menit, lalu mengulanginya besok. Dari sana, kesehatan tidak lagi berhenti di kolom komentar. Ia mulai hidup di tubuh yang bergerak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *